Back to Daftar Artikel

Selasa, 02 Agustus 2014 - 04:52:24 WIB

Prolog Buku 69 Single Aphrodite Chapter 2

Diposting oleh : Administrator
Dibaca: 2200 kali



TENTANG DIMENSI KESENDIRIAN



"Lahir sendiri, mati sendiri, lalu mengapa takut hidup sendiri?" ungkapan tersebut hanyalah sebuah ilustrasi yang mengambarkan tidak ada yang salah dengan kesendirian. Dan ketika berbicara tentang lajang kontan saja saya langsung teringat dengan burung Rajawali. Eagle atau Rajawali mengepakkan sayapnya terbang mengangkasa sendirian. Sebuah lambang kebebasan dan kemerdekaan.
Pada masyarakat yang sudah maju secara ekonomi, pilihan melajang adalah pilihan rasional. Sebab dengan kesendirian di saat usia produktif, apalagi saat sudah mencapai titik kemapanan ekonomi, melajang adalah kekuatan. Bayangkan, mengelola komunikasi antara dua entitas yang tidak seimbang adalah sesuatu yang melelahkan. Tak jarang banyak energi yang dikeluarkan untuk mempertahankan sebuah ikatan emosi ketimbang membebaskannya pada kehendak semesta.
Penulis teringat dengan fragmen presentasi George Clooney dalam film "Up in The Air". Clooney membawakan karakter Ryan Bingham, lelaki lajang di puncak kesuksesan dengan komitmennya untuk mempertahankan status lajangnya. Komitmen tersebut disampaikannya dalam sebuah seminar motivasi. Saya ulas sedikit. Sederhananya, Ryan Bingham mengibaratkan hubungan romansa seperti membawa ransel dalam kehidupan. "Hubungan romansa Anda adalah komponen terberat dalam hidup Anda. Apakah Anda merasakan tali ransel memotong ke bahu Anda? Bernegosiasi dengan pasangan, dengan semua argumen, menyembunyikan rahasia untuk menjaga hubungan tersebut dan juga krisis apabila sebuah rahasia terungkap. Beberapa hewan memang diciptakan untuk terikat satu sama lain seumur hidup. Seperti angsa yang hanya setia pada satu pasangan. Tapi semakin lambat kita bergerak, semakin cepat kita mati. Kita bukan angsa. Kita hiu." demikian presentasi Ryan Bingham yang diperankan oleh George Clooney itu.
Dalam banyak studi demografi dan pemasaran ada sejumlah temuan menarik. Salah satunya, makin meningkatnya presentase perempuan lajang. Jika dilakukan perbandingan, pada tahun 1980 ditemukan hanya 31% wanita yang belum menikah di usia dewasa (20 tahun keatas). Jumlah tersebut meningkat menjadi 33% pada tahun 1990. Sehingga, selama periode 1980-1990 terdapat kenaikan penduduk wanita yang belum menikah sebanyak 6,5 juta orang (Kristanti, 2005).
Mengacu pada istilah 'lajang' maka kita akan jumpai populasi heterogen. Studi demografi tidak memisahkan antara perempuan yang pernah menikah (janda, bercerai dan memisahkan perempuan) dengan perempuan yang tidak pernah menikah baik tua dan muda, dengan atau tanpa anak, kumpul kebo, tinggal dengan orangtua, saudara, orangtua, orang asing atau hidup sendirian (Byrne 2000). Sedangkan Stein (1976) mendefinisikan lajang sebagai orang yang cukup usia tetapi belum atau tidak menikah, apapun alasannya.
Dalam kajian sosiologi global, fenomena makin banyaknya perempuan lajang ini merupakan fenomena sosiologi global. Merujuk pada data The National Marriage Project di Rutgers University menunjukkan secara keseluruhan, tingkat pernikahan di Amerika Serikat menurun 43% antara tahun 1960 dan 1996, dari 87,5 per seribu menjadi 49,7 per seribu (Kanner, 2005: 112).
Saat ini secara global, perempuan lajang berhasil menduduki berbagai macam posisi seperti profesional di perusahaan, profesor dan ilmuwan, pemimpin bisnis dan pemilik bisnis. Hal ini menunjukkan kecenderungan melajang lebih sering dijumpai pada perempuan yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Riset yang pernah dilakukan oleh Markplus, menunjukkan rasio melajang lebih tinggi pada kelompok dengan SES (Social Economy Status) A dan B. Perempuan pada kelompok ini akan lebih mengutamakan karir mereka dibandingkan perempuan-perempuan kebanyakan. Mereka cenderung memiliki gaya hidup yang lebih mandiri dan kebebasan yang tidak dimiliki oleh perempuan-perempuan yang sudah menikah pada umumnya (Robinson dan Bessell, 2002: 229).
Mereka cukup mempunyai pendapatan, siap konsumsi dan cenderung membelanjakannya untuk mendukung perilaku hidup ala sosialita dengan kecendrungan hura-hura seperti hiburan, membeli pakaian dan dekorasi rumah (Prasetijo dan Ihalaw, 2003). Bahkan, menurut National Association of Realtors, wanita lajang adalah kelompok kedua terbesar dalam pembelian rumah. Rata-rata kepemilikan rumah oleh wanita lajang lebih besar dua kali lipat dibandingkan dengan pria lajang (Kanner, 2005: 112).
Di dalam buku yang ada di tangan pembaca ini, istilah lajang adalah perempuan yang tidak pernah menikah setelah melewati usia normal untuk menikah. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Jones (2003) melaporkan sampai sekitar tiga dekade lalu, kebanyakan perempuan di negara dengan  populasi Muslim-Melayu seperti Malaysia, Indonesia, Singapura dan Thailand Selatan menikah pada usia 18 tahun. Namun, kecenderungan ini berubah dan tampaknya telah menjadi pola umum di negara-negara tersebut di mana perempuan menunda pernikahan mereka.
Sedangkan Cargan (1981:378), menjelaskan pada beberapa dekade lalu di sub-etnis Melayu Asia Tenggara, melajang sering dianggap sebagai suatu hal yang bersifat sementara sebelum atau di antara pernikahan dan pernikahan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir terdapat kecenderungan yang menunjukkan melajang menjadi status yang berkepanjangan dan fenomena ini banyak dijumpai di daerah perkotaan, perempuan berpendidikan tinggi dan mandiri secara ekonomi (Maeda 2006, Sitomurang 2005).
Saya teringat pada Michele Cove yang melakukan wawancara mendalam kepada lebih dari 100 wanita. Cove menggali bagaimana makna suatu hubungan berdasarkan pemikiran mereka. Seperti makna perpisahan, kebahagiaan dan apa yang diinginkan perempuan lajang saat menjalin hubungan. Hasil risetnya itu ditulis dalam bukunya “Seeking Happily Ever After: Navigating the Ups and Downs of Being Single Without Losing Your Mind (and Finding Lasting Love Along the Way)”.
Cove menyimpulkan ada 12 tipe karakter dan tipe wanita single pada umumnya. The Soulmate Seeker, perempuan yang rela melakukan segalanya demi untuk menemukan belahan jiwanya. Lalu tipe Phoenix, mereka yang baru saja putus hubungan yang menyakitkan dan ingin melakukan semua hal yang bisa membuatnya bangkit dari keterpurukan. Kemudian ada tipe Organic yang lebih suka pasrah menunggu takdir dan lebih senang hidup sendiri daripada berburu pria. Selanjutnya tipe The Princess in Waiting, yaitu lajang yang berharap menunggu diselamatkan oleh seorang pangeran. Sedangkan tipe The Late Bloomer adalah yang memilih untuk bertahan menunggu calon suaminya untuk tampil.
Selanjutnya, Cove juga mengklasifikasikan tipe The Free Spirit yaitu perempuan yang ingin selalu bebas tanpa ada komitmen. Ada juga tipe The Wedding Wisher yaitu perempuan yang tiba-tiba berkhayal tentang pernikahan setelah sebelumnya tidak pernah peduli tentang hal itu. Lalu tipe The Rebel Town yang sadar dengan kebosanan hidup dengan gaya bebas dan memilih menjauhi teman sesama lajangnya.
Adalagi tipe The Ritual Re-inventor yaitu perempuan lajang yang ingin mendapatkan pasangan dan berharap bisa menjalani upacara pernikahan yang tidak konvensional. selanjutnya The Mom Wannabe atau mereka yang mendambakan memiliki bayi suatu hari nanti. Lalu The Slow & Steady yaitu tipe perempuan yang berharap bisa menikah pada waktu yang tepat namun sampai hari itu tiba, dia memilih bersenang-senang dengan teman dan keluarga untuk mengusir tekanan besar yang dialaminya.
Dalam buku 69 Single Aphrodite ini ditampilkan kisah 69 perempuan lajang yang mengangkasa ibarat Rajawali di cakrawala luas, dan Hiu di samudera yang dalam. Ada hal yang terungkap pada kisah-kisah di dalam buku ini. Sebenarnya perempuan lajang menyadari adanya kekosongan dalam hidupnya.
Secara psikoologis kondisi melajang diidentikkan dengan perasaan kesepian. Dan masalah kesepian ini yang seringkali dirasakan perempuan lajang karena ketidakhadiran pasangan hidup. Walau begitu, sebagian besar tidak mengakui mereka mendapat tuntutan untuk menikah. Para figur perempuan lajang yang sukses dalam buku ini mengatakan tidak ada masalah dengan statusnya.
Dalam hal harapan pada pernikahan terungkap semuanya masih menetapkan standar yang tinggi dalam memilih pasangan. Faktor konsep diri masih dipengaruhi gambaran ideal tentang pernikahan. Pada sebagian kisah ditemukan adanya trauma masa lalu yang masih membekas. Atau dengan kata lain, beberapa faktor yang mempengaruhi pandangan mereka terhadap sosok pasangan adalah refleksi dari konflik batin, khususnya konflik masa lalu.
Walau begitu, satu hal yang jelas terungkap adalah di balik kesendiriannya dan haru-biru kisah perempuan lajang yang perkasa ini, ada sebuah nilai yang bisa diambil. Kesendirian tidak melumpuhkan mereka. Justru sebaliknya, mereka telah membuktikan diri mereka mampu meraih prestasi baik dalam karir, pencapaian dan prestasi. Dan untuk hal ini kita bisa menyimpulkan, status lajang justru menjadi kekuatan.
Sekali lagi saya harus mengakui kebenaran dari apa yang dikatakan oleh Ryan Bingham. Beberapa hewan memang diciptakan untuk terikat satu sama lain seumur hidup. Seperti angsa yang hanya setia pada satu pasangan. Tapi semakin lambat kita bergerak, semakin cepat kita mati. Kita bukan angsa. Kita adalah hiu.
Semoga buku sederhana ini dengan berbagai kekurangan yang pasti menyertainya, dapat memberikan pemahaman baru, khususnya bagi para lelaki lajang yang juga terbang mengakasa di langit luas. Ada hati yang lembut, namun telah teruji dalam kehidupan, menanti lelaki yang bersedia menyerahkan kuntum kasih dan kado perlindungannya.

Jakarta, 05 Desember 2013


Reza Syariati

 




Kategori Artikel

Artikel Lainnya

Contact

PROGRESIF OFFICE

GEDUNG STC SENAYAN Level 4 Interval 31-34 Jl. Asia-Afrika Gelora Bung Karno Pintu IX Jakarta-Pusat 10270 Telpon : 021-57931879 Fax : 021-57931880