Back to Daftar Artikel

Selasa, 02 Agustus 2014 - 04:36:12 WIB

Prolog buku 69 single aphrodite chapter 1

Diposting oleh : Administrator
Dibaca: 2092 kali



TENTANG DIMENSI WANITA



"Hanya tawa dan senyum Aphrodite yang membuat dunia ini terasa lebih indah."- el sabor de la belleza (cita rasa keindahan).

Bisa dibayangkan jika dunia ini tanpa wanita. Mungkin akan seperti dahan pohon tanpa pucuk dedaunan, atau seperti taman tanpa hiasan bunga-bunga yang merona, sebuah ornamen keindahan yang menghilang. Semua akan terlihat begitu gersang dan tandus.

Wanita melintas zaman, menggores kisah penuh pesona, keanggunan, hingga kepedihan. Zaman dulu, wanita pernah menjadi kaum kelas dua. Keindahan mereka hanya menjadi bahan eksploitasi, sebagai hiburan semata bagi kaum laki-laki. Ini hampir terjadi di semua belahan dunia. Bahkan, hingga kini di sejumlah tempat di belahan dunia ini, nasib wanita masih juga belum berubah.

Dulu wanita seolah tidak pernah menjadi perhatian. Dunia sepertinya hanya milik laki-laki, sementara wanita ditempatkan di balik-balik pintu, di bilik-bilik kamar, di belakang rumah yang tugasnya semata melayani laki-laki. Kalaupun ada wanita yang mencoba bersaing dengan laki-laki, dalam hal prestasi, karir, kepemimpinan dan lainnya, lingkungan sosial buru-buru mencapnya dengan tuduhan yang merendahkan. Bahkan dulu, dalam sebuah tradisi masyarakat tertentu, ada bayi wanita yang baru lahir segera dibunuhi karena dianggap tiada guna.  

Pandangan dunia yang timpang terhadap wanita ini lambat laun berubah. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan gerakan feminisme yang dipelopori Mary Wollstonecraft dengan bukunya “A Vindication of The Right of Women” (1779). Maka kemudian muncul sebuah disiplin yang memfokuskan perhatian terhadap wanita. Sosiologi wanita, sebuah disiplin yang membongkar perspektif menyeluruh tentang keanekaragaman pengalaman yang terstruktur bagi kaum wanita. Disiplin ini mendefinisikan sosiologi wanita dalam arti pola-pola ketidakadilan yang terstruktur khususnya kerangka stratifikasi jender.

Di samping itu, secara eksplisit berkembang pengintegrasian penelitian yang progresif mengenai peran jender dari disiplin sosiologi. Bidang kajian ini tentu bergerak ke arah penilaian sistematis tentang seluruh wanita, termasuk wanita kulit berwarna, wanita kelas pekerja, wanita segala usia, dan sebagainya.

Apabila dilihat dari perspektif teori sosiologi wanita, maka terdiri setidaknya tiga kelompok kontributor pemikiran sosiologi utama yang terpilih:

Pertama, kelompok teoretisi positivis/fungsionalis, yang menegaskan bahwa tatanan “alamiah” dominasi laki-laki sebagai suatu perbedaan terhadap argumen-argumen mengenai “hak-hak” kaum wanita. August Comte percaya bahwa wanita “secara konstitusional” bersifat inferior terhadap laki-laki, karena kedewasaan mereka sebetulnya berakhir pada masa kanak-kanak. Oleh karena itu, Comte percaya bahwa wanita menjadi subordinat laki-laki manakala dia menikah.

Kedua, kelompok para teoretisi konflik, yang melukiskan sistem-sistem penindasan yang secara sistematis membatasi kaum wanita. Karl Marx misalnya, melihat masyarakat secara konstan berubah komposisinya; kekuatan-kekuatan anti-tesis menyebabkan perubahan sosial melalui ketegangan-ketegangan dan perjuangan antarkelas yang bertentangan. Karena itu, kemajuan sosial, diisi oleh perjuangan dan upaya keras yang membuat konflik sosial menjadi inti dari proses sejarah. Di sinilah Marx menulis mengenai eksploitasi tenaga kerja yang menimbulkan alienasi dan pembentukan kelas yang saling berlawanan. Dalam Tulisan Marx dan Engels (1970) mereka menulis tentang wanita, sebagai alat produksi sebagai berikut:

“Tetapi komunis akan memasukkan komunitas wanita, mengutuk semua borjuis secara serempak. Seorang borjuis melihat istrinya sebagai alat produksi belaka. Ia mendengar bahwa alat-alat produksi biasanya dieksploitasi; dan tentu saja tidak ada kesimpulan lain, apa yang biasa terjadi pada kebanyakan alat produksi, menimpa pula pada kaum wanita. Ia tidak pernah menyangsikan bahwa tujuan sesungguhnya adalah menjauhkan status wanita sebagai alat produksi belaka.”

Kelompok ketiga, adalah kelompok alternatif, yakni kelompok aktivis “karya sosial dan interaksionis”. Kelompok ini dipimpin Jane Addams yang bermukim di sebuah pemukiman kumuh di Chicago West Side dari tahun 1800-an dan awal 1900-an (Addams, 1910). Yang membuka Hull House pada tahun 1889, membuka Universitas Chicago tahun 1892. Model pemukiman itu menurut Deegan (1988: 6) adalah egalitarian, dominasi kewanitaan, dan pragmatis.

Jaringan kerja para aktivis sosial dan akademikus yang sering mengunjungi Hull House, termasuk John Dewey dan George Herbert Mead, banyak memberikan kontribusi pada perkembangan pragmatisme Chicago yang menggabungkan ilmu pengetahauan obyektif pengamatan dengan isu-isu etik dan moral untuk menghasilkan suatu masyarakat adil dan bebas. Wanita pun pada akhirnya mulai mendapatkan ruang dan dapat berkompetisi secara terbuka dengan kaum lelaki.

Jika diklasifikasi feminisme dapat dibagi ke dalam banyak bagian yaitu:

Feminisme Liberal yang menekankan pada dua hal penting; pertama, bahwa keadilan gender menuntut kita untuk membuat aturan permainan yang adil. Kedua, untuk memastikan tidak satu pun dari kontestasi kebaikan dan pelayanan masyarakat yang dirugikan secara sistematis, keadilan gender tidak menuntut untuk memberikan hadiah bagi pemenang dan hukuman bagi yang kalah.

Kemudian Feminis Radikal yang berfokus pada seks, gender, dan reproduksi sebagai lokus perkembangan pemikiran feminis. Feminis kelompok ini, terbagi menjadi dua, yaitu kelompok androgini yang menekankan pada semua jenis hubungan seks (heteroseksual, lesbian atau otoerotik) dan memandang teknologi baru pembantu reproduksi dan teknologi lama pengendali reproduksi sebagai anugerah mutlak bagi perempuan. Sebaliknya, feminis radikal yang lain menolak androgini.

Feminisme Marxis dan Sosialis mengklaim bahwa tidaklah mungkin bagi setiap orang, terutama perempuan, untuk mencapai kebebasan yang sejati dalam masyarakat yang berdasarkan kelas, masyarakat yang kekayaannya dihasilkan oleh yang tidak berkekuasaan (yang jumlahnya banyak) berakhir di tangan yang berkekuasaan (yang jumlahnya sedikit).

Feminisme Eksistensialisme memandang manusia khususnya perempuan sebagai suatu yang tinggi, dan keberadaannya itu selalu ditentukan oleh dirinya, perempuan yang dapat bereksistensi yang sadar akan dirinya dan tahu bagaimana cara menempatkan diri.

Lalu Feminisme Posmodern mengklaim bahwa ke-liyanan (otherness) perempuan memungkinkan individu perempuan untuk mundur dan kemudian mengkritisi norma, nilai, dan praktik-praktik yang dipaksakan oleh kebudayaan laki-laki yang dominan (patriarki) terhadap semua orang, terutama mereka yang berada di pinggiran.

Feminisme Multikultural dan Global setuju dengan Feminisme Posmodern bahwa yang disebut “diri” adalah terpecah (fragmented) atau paling tidak terbagi. Meskipun demikian, bagi Feminis Multikultural dan Global, akar dari fragmentasi ini lebih bersifat kultural dan nasional daripada seksual dan sastrawi.

Kelompok Ekofeminisme menawarkan konsepsi yang paling luas dan paling menuntut hubungan “diri” dengan yang lain. Menurut kelompok ini, kita berhubungan bukan saja dengan satu sama lain, tetapi juga dengan dunia bukan manusia: binatang bahkan tumbuhan.

Psikologi Wanita
Wanita adalah sosok yang unik, kuat namun secara umum menampakkan kelemah lembutan. Dia bisa kelihatan sangat lembut, namun di balik kelembutannya ada kekuatan yang dalam, yang seringkali laki-laki tidak dapat menerkanya.

Dalam kajian psikologi wanita disebutkan setidaknya ada tujuh hal yang dapat membentuk tipe-tipe karakter seorang wanita, yakni: Social Progamming, yaitu hal yang diajarkan dari keluarga dan masyarakat yang membentuk kepribadian wanita secara mendasar. Social Pressure, adalah ketakutan wanita akan apa yang orang lain pikirkan tentang tindakan yang wanita lakukan. Culture (Budaya), yaitu budaya yang tidak mengizinkan seorang perempuan memiliki pria dari budaya lain. Budaya juga menentukan trend, selera dan kelas tertentu, contohnya orang Asia lebih tertutup dibanding orang bule. Personal (Ego), ego kadang-kadang bertolak belakang dengan hal yang sebenarnya diinginkan perempuan. Ego juga bisa disebut sebagai gengsi dan banyak sekali perempuan yang gengsinya sangat besar. Misalnya, si wanita suka dan tertarik dengan seorang pria, tetapi karena gengsi perempuan itu, dia akan menjauh dari pria yang disukainya.

Berikutnya adalah Physical Barrier atau Preferensi Panca Indera, maksudnya dengan preferensi panca inderanya seorang perempuan pasti suka melihat pria ganteng, dan banyak pria yang tidak merasa ganteng menjadi putus asa padahal masalah ganteng atau tidak itu hanya preferensi panca indera belaka, yang pada akhirnya tidak berpengaruh banyak untuk membuat seorang perempuan menjadi tertarik. Lalu Logical Barrier, adalah pembentukan karakter yang mementingkan nalar serta alasan yang logis, misalnya soal matre apa tidak, pinter apa tidak si lelaki dan sebagainya. Terakhir, Emotional Barrier, emosi adalah zat adiktif yang dapat membuat wanita mempunyai keterikatan.

Single Aphrodite, The Beauty of Independent Women, dalam perspektif 69, melengkapi perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Di mana dalam setiap langkah, dalam perjalanan akan banyak dinamika, di mana sosok wanita single yang mapan secara finansial dan memiliki fisik yang menawan bisa menjadi anugerah ataupun malapetaka. Sebuah sisi yang bertolak belakang. Anugerah, sebab tidak semua wanita yang memiliki kemapanan finansial dan di anugerahi fisik yang menawan. Sehingga bisa mendatangkan malapetaka saat dimensi yang kosong itu harus diisi atau di dekati hanya dengan melihat finansial dan fisik semata.

Saat ketulusan semakin menjauh, dikarenakan kemunafikan semakin banyak mendekat. Maka bukalah mata untuk melihat yang jauh. Siapkan daun telinga untuk mendengar lebih dekat. Mulailah menghirup dari kedua lubang hidung bau yang akan tercium, selaraskan hati dan pikiran dalam setiap tindakan dan perbuatan.

Senandung cinta Jalaluddin Rumi, untuk melihat realitas cinta. Dengan membuka tabir penutup mata hati dalam diri kita, lalu Mensucikan diri dimulai dengan bernafas yang benar, dan penuh kesadaran. Sebab, dengan bernafas dalam kesadaran kita mensucikan nafas kita. Dalam keheningan, kita menemukan jati diri kita. Lalu diri kita menemukan sang tercinta.

Semua uraian perspektif tentang wanita, baik secara sosiologis maupun psikologis tadi, menjadi alasan kenapa buku ini ditulis. Kisah-kisah tentang wanita, yang kebetulan semuanya masih single, akan tertuang dalam buku ini sebagai cerminan perspektif sosiologis dan psikologis itu.

Buku “69 Single Woman Aphrodite”, ini merupakan rangkaian pertama dari buku Women Series. Mengisahkan tentang 69 wanita lajang dengan beragam pilihan hidup, mulai dari pengusaha, marketing, dosen, desainer, pengacara, atlet, chef, DJ, model, penulis, penyanyi, politisi, presenter, dan profesi lainnya. Semua kisah menarik tentang bagaimana para wanita ini memilih serta menggeluti profesinya, dengan liku-liku yang mereka jalani, untuk mencapai sesuatu bernama kesuksesan, akan diurai secara mengalir di dalam buku ini.

Tidak hanya soal profesi, karena lebih jauh dari itu, di dalam buku ini pula, para wanita ini bertutur tentang kisah suka-duka mereka yang dapat menginspirasi siapa pun yang membacanya. Tergambar jelas, bagaimana sebuah pilihan hidup akan melahirkan konsekuensi, baik pahit ataupun manis.

Buku ini juga bercerita tentang bagaimana wanita mengaktualisasikan dirinya serta berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sosialnya. Oleh karenanya, pembaca seolah diajak ikut menelusuri diorama kisah 69 wanita yang mewakili dari beragam latar belakang berbeda, baik dari pendidikan, sosial, serta lingkungannya. Dari mulai wanita biasa yang bisa jadi belum Anda kenal, hingga publik figur yang biasa menghiasi halaman media cetak serta layar televisi.

Tentu saja buku ini tak hanya penting untuk para pembaca wanita, karena pembaca pria pun bisa memetik hikmahnya. Agar memahami bagaimana sejatinya mengapresiasi seorang wanita yang saat ini kedudukannya sudah setara dengan pria. 

Jakarta, 01 Desember 2013


Aranda Ara

 




Kategori Artikel

Artikel Lainnya

    Contact

    PROGRESIF OFFICE

    GEDUNG STC SENAYAN Level 4 Interval 31-34 Jl. Asia-Afrika Gelora Bung Karno Pintu IX Jakarta-Pusat 10270 Telpon : 021-57931879 Fax : 021-57931880